artikel singkat sosiologi


BUKAN SEKEDAR BERKUALITAS DUNIA
Ahmad Bayhaqi
SMA Plus Al Amanah
Dunia tuk sarana akhirat tujuanya.
                        Berbicara tentang kualitas, sebenarnya apa sih kualitas itu?
Menurut KBBI kualitas adalah tingkat baik buruknya sesuatu. Sedangkan yang dinamakan “BERKUALITAS” adalah mempuyai kualitas; bermutu (baik). Jadi secara harfiahnya pelajar dan santri yang berkualitas adalah pelajar dan santri yang bermutu baik. Baik yang di maksud adalah baik dalam segala hal yang nantinya dapat membantu kehidupan pelajar, dan tentunya untuk mewujudkannya perlu kesadaran diri dan dorongan dari semua elemen yang menunjang pendidikan pelajar.
Sebelum membahas lebih jauh tentang solusi dalam mewujudkan pelajar dan santri yang berkualitas, perlu di ketahui perbedaan antara santri dengan pelajar. Secara singkatnya santri pasti pelajar sedangkan pelajar belum tentu santri. Namun, yang lebih dominan dalam berkualitas adalah santri. Karena, walaupun seorang santri tidak memiliki skill yang mumpuni dalam pendidikan formal, tapi santri masih punya harapanBAROKAH”  dari ketaatan kepada gurunya. Apalagi jika santri sudah menguasai salah satu dari bidang tersebut atau bahkan dapat menguasai keduanya, pasti peluang untuk menjadi santri yang berkualitas sangatlah besar.
            Disisi lain seorang pelajar harus berjuang dengan keras untuk dapat menjadi pelajar yang berkualitas. Pasalnya, saat ini kehidupan luar (bukan lingkungan pondok) adalah kehidupan yang modern, bebas , dan liar. Sulit untuk mendapatkan benteng yang kuat untuk menehan arus globalisasi dan kebudayaan barat yang kian menggerogoti seorang muslim. Di sini peranan keluarga dan pembimbing (guru) sangat penting untuk menyelamatkan anak dari hal tersebut.
            Tak bisa di pungkiri saat ini bahwa pesantren adalah benteng terbaik untuk menjaga moral dan akhlak para penerus bangsa. Dan dari pesantren pula terlahir tokoh-tokoh yang merambah kancah Internasional. Seperti syekh Mahfudz At Turmuzi (Termas, Pacitan) dengan kitab mauhibah Mauhibah dzil fadlnya yang menjadi referensi Internasional di bidang fikih, kiai Ihsan Dahlan (Jampes, Kediri) dengan kitab shirajut thalibinnya yang menjadi referensi internasional  di bidang tasawuf. Ada juga  kiai Kholil Bangkalan yang menjadi guru besar masjidil haram. Dan masih banyak lagi kiai yang merambah kancah Internasional. Mereka adalah contoh-contoh santri yang berkualitas yang bermanfaat bagi sesama.
Arti Santri Dan Pelajar yang Berkualitas
            Pasti akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi guru jika anak didiknya dapat menjadi pelajar yang berkualitas yang biasanya ditandai dengan prestasi yang diraihnya. Dan menurut pak tedy setyo nugroho selaku wasit dan penguji INKAI Jatim memaparkan bahwa pelajar yang berkualitas adalah pelajar yang aktif, kreatif, dan gigih. Serta jika sudah terjun di masyarakat bisa menjadi orang yang mampu dalam berbagai hal.
Namun, prestasi saja tidak cukup untuk menandai individu sebagai pelajar yang berkualitas. Di perlukan pula kesuksesan dalam bermasyarakat untuk menunjukkan berkualitas atau tidaknya individu tersebut. Seperti yang di ungkapkah oleh H. M. Bahruddin, kepala sekolah SMA PLUS AL AMANAH, menurutnya santri yang berkualitas adalah santri yang dapat mengaplikasikan ilmu yang di peroleh dari pondok. Hingga nantinya mereka dapat memberikan  manfaat bagi kehidupan masyarakat. Seperti yang telah di jelaskan olelh Rasulullah SAW.
Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia lainnya”
            Tetapi dalam perkembangan zaman, seorang santri harus memiliki “Bungkus” yang menarik agar tidak terkesan norak dan kuno. Sehingga dalam proses sosial di masyarakat, mereka dapat berinteraksi dengan baik tanpa menyalahi aturan dalam islam.
Faktor Penghambat Berkualitasnya Pelajar Dan Santri
            Ada beberapa hal yang menjadi penghambat berkualitasnya seorang pelajar dan santri. Diantaranya adalah kesibukan lain diluar sekolah/kampus, contohnya bekerja sampingan sambil kuliah. Jika mereka sudah merasa nyaman dalam dunia kerja yang menghasilkan uang mereka bisa lupa dengan tujuan awal mereka yaitu menuntut ilmu. Hal serupa dialami oleh Pak Teddy Setyo Nugroho, beliau menempuh pendidikan S-1 Nya selama 8 tahun, karena beliau kuliah sambal berdagang. Beliau menuturkan selain kesibukan yang menyita waktu, hobi yang melenceng dari pendidikan juga menjadi alasan terhambatnya kualitas pelajar. Hobi tersebut seperti, kecanduan game online dan bermain PS yang tak kenal waktu.
            Masalah lainnya adaah kebebasan, hal ini biasanya dialami oleh mahasiswa atau pelajar yang jauh dari orang tua. Mungkin saat dirumah mereka masih di batasi oleh orang tua mereka dan begitu mendapat kebebasan, mereka akan “terbang”  tanpa menghiraukan efek yang akan merugikannya.
            Lain pelajar lain pula santri, masalah-masalah tersebut tidak akan mendera para santri, karena lingkup pesantren sangat membatasi kecendrungan santri akan hal-hal tersebut. Satu-satunya masalah yang sangat sering dihadapi adalah kejenuhan atau kebosanan belajar. Masalah inilah yang kiranya menyebabkan mereka boyong (keluar dari pondok). Tapi, bagi santri kreatif yang kebanyakan hidup dalam kesederhanaan, mereka akan mencari hal baru untuk mengatasi kejenuhan tersebut, dan umumnya hal tersebut tidak dapat dijumpai pada orang kebanyakan.
Peranan Pembimbing  Dan Lembaga
            Dalam proses interaksi antara guru dan murid harus ada batasan agar kewibawaan guru tetap terjaga. Tetapi perlu juga pendekatan agar murid tidak terlalu canggung untuk meminta solusi kepada gurunya. Dan lembagapun juga harus ikut andil untuk memenuhi apa kebutuhan pelajar.
            Dari pihak pembimbing, mereka harus memberi motivasi lebih agar anak didiknya benar-benar bermanfaat di masyarakat. Bukan hanya sekedar sukses dunia saja yang diraih tapi pembimbing juga harus memberikan motivasi, agar anak didiknya dapat meraih kesuksesan di akhirat kelak.
            Memang sudah lazim di lingkungan pesantren dikenal adanya istiliah “ Barokah” . Kata ampuh yang dapat memacu santri untuk taat kepada gurunya. Di Ponpes seorang Pembina bukan hanya memotivasi akan tetapi dia harus menancapkan keyakinan pada diri anak didiknya agar kelak dapat menjadi santri yang berkualitas. Do’a gurupun sangat berpengaruh dalam pembentukan kualitas santri. Karena, dunia ini selain ada hubungan sesama manusia ada juga hubungan antara manusia dengan sang Pencipta yaitu Allah SWT.
            Sedangkan dari lembaga sendiri harus ada fasilitas yang bervariasi untuk mengembangkan bakat akademik maupun non akademik yang dimiliki seorang pelajar. Karena jika otak sudah bosan dengan hal-hal disekelilingnya maka respon positiflah yang akan menanggapi jika ada hal baru yang dianggap mengasyikkan. Tentunya jika otak sudah aktif dengan hal-hal positif maka kualitas dapat meningkat dengan sendirinya.
Faktor diri sendiri dan Pengalihan Kejenuhan
            Diri sendiri adalah poin terpenting untuk menjadi seseorang yang berkualitas. Walaupun sudah ada dukungan oleh semua pihak tetapi bila dari diri seorang pelajar sendiri tidak ada kemauan untuk meningkatkan kualitas diri, maka usaha semua faktor tersebut akan sia-sia belaka. Oleh karena itu hendaklah para orangtua dan guru memberikan bimbingan spiritual agar tercipta mindset positif dalam diri mereka.
            Namun, jika permasalahannya hanya terletak pada kejenuhan saja dan bukan pada minat para pelajar, maka solusinya cukup dengan pengalihan kegiatan saja. Pengalihan kegiatan ini lebih baik dan lebih bermanfaat dari pada hanya istirahat atau rekreasi yang sudah umum digunakan untuk menyegarkan otak.
            William Ewart Gladstone pernah menyatakan bahwa pergantian perkerjaan merupakan istirahat terbaik ( Conandoylle Arthur, Sherlock holmes the sign of the four ) jadi bukan hanya istirahat atau rekreasi saja cara untuk mengatasi kejenuhan. Mereka juga dapat mengalihkan kejenuhan dengan menyelinginya untuk melakukan hal positif lain. Pelajar juga dapat mengeluarkan bakatnya untuk mengalihkan kejenuhan saat belajar.
            Junaidi, salah satu santri Pondok Pesantren Nurul Falah Bojonegoro, mengaku sering mengisi waktu luangnya dengan menulis kaligrafi. Kemudian pihak Yayasan mendatangkan tutor yang berbakat untuk mengembangkan bakat anak didiknya. Alhasil saat liburan panjang banyak orang yang memesan hiasan kaligrafi kepadanya dan tentunya dengan imbalan yang sepadan pula. Bahkan saat ini dia mulai berlatih dalam kesenian lukis kaca.
            Jika berbakat melukis, Melukislah ! jika berbakat menulis, Menulislah !
Karena suatu bakat jika dibina dengan baik pasti akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Banyak penulis-penulis hebat yang lahir dari pesantren seperti Ahmad Fuadi (penulis trilogi Negeri 5 Menara), Habiburrahman El Shirazy (penulis novel Ayat-Ayat Cinta) dan Gus Mus yang dikenal dengan artikel-artikelnya. Mereka adalah contoh santri berkualitas yang selalu mengasah bakatnya di waktu-waktu senggang.
            Namun semuanya harus didasari Iman yang kuat. Jika sudah memiliki iman yang kuat, apapun kegiatan yang dilakukan pasti akan didasari taat kepada Allah SWT. Karena era kini sesuatu baikpun jika tidak dibungkus dengan menarik akan sulit bagi masyarakat untuk menerimanya. Tentunya semua dilakukan agar seorang pelajar dapat benar-benar berguna di masyarakat dan mencapai arti berkualitas sesungguhnya.
            Untuk mewujudkan itu semua harus ada kemauan yang kuat dari diri si pelajar dan bimbingan dari orang tua dan guru. Mereka harus memberi apa yang pelajar butuhkan, memotivasi, dan mendo’akan mereka. Jika semua sudah dilakukan, maka tinggal menunggu hasil apakah mereka menjadi pelajar dan santri biasa, menjadi pelajar dan santri yang berkualitas, atau menjadi pelajar dan santri yang benar-benar berkualitas yaitu pelajar dan santri yang mampu menggunakan dunia sebagai sarana untuk mencapai akhirat. Ingatlah kesuksesan santri dan pelajar tersebut merupakan investasi pendidik dan orangtua di Akhirat kelak !.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

storytelling anglingdharma

esai tentang kerupuk klenteng khas bojonegoro