cerpen keluarga terbaik

Kan ku pertahankan desa ku ini
                                                                                                                  Choirul mochlisin
                                                                                                                  Cerpen ngawur

Sesampainya kami di tempat yang sepi, bertemulah kami dengan orang gila yang memakai baju tentara, topi pramuka, sepatu panjang, dan bendera di tanganya, orang gila itu menghampiri kami dengan melantunkan lagu indonesia raya sampai selesai, dan disambung dengan bacaan panca sila sampai selesai, tentunya kami heran dibuatnya.
Dari sekian banyak orang gila yang kami temui baru kali ini kami menemui orang gila yang bisamembuat kamibengong dan heran.
Lalu ku beri hormat orang gila itu dan dia membalasnya, teman-teman hanya bengongmelihat adegan tersebut.
Selesai ku beri hormat orang gila tersebut, danlangsung saja dia pergi meninggalkan aku dan kawan-kawan.
‘’emang elu kenapa fah ama orang gilaitu???’’  ujarteman-teman, ‘’tidak sih, tapi orang gila itu sangat aneh dan unik, lihat deh, dia berpakaian rapi layaknya tentara, ditambah dengan bendera merah putih di tanganya, dan dia juga hafal panca sila segala,  padahal aku tidak hafal, hehehe,,’’
 Dingin masih menyelimuti, jangkrik masih bernyanyi hembun mesih menyelimuti, rembulan terang berpijar, suara adzan berkumandang, kecupan manis seorang ibu di dahianaknya, sambil berbisik di telinga, ‘’ayo bangun sayang sudah jam tiga’’ aku hanya bangun membuka matadan tersenyum, ‘’iya ibu’’  bisik ku.
Tepat pukul empat aku membuka mata dan terbangun beranjakke kamar mandi untuk ambil air wudzu, dan melaksanakan sholat.
Masih sangat malas melakukan kegiatan,dan duduk di depan teras pinggir jalan, teman-teman menyapa ku niatan mengajak ku bersepeda keliling desa.  Namun apa daya aku tidak memiliki sebuah sepeda.
Pernah aku bertanya pada ibu ‘’kapan ya bu aku punya sepeda seperti teman-teman?’’ ibu hanya tersenyum dan mengelus rambut ku.
Sebenarnya aku tidak tega melontarkan kata kata itu , namun apa daya aku sangat pengen bersepeda, karena aku terlahir dari keluarga kurang mampu, ayah seorang tukang kayu, dan ibu seorang ibu rumah tangga, dan tinggal di rumah kecil yang sempit.
Sehari-hari setiap pulang sekolah aku hanya membantu ibu dan bercerita pengalaman di sekolah.
Waktu itu masih duduk di bangku sekolah dasaraku sangat di bantu dalam hal pelajajan,bahkan ibu mengorbankan waktu istirahatnya demi membimbing ku dalam pelajarah.
Hari senin tepatnya, jam setengah tujuh pagi aku berangkat sekolah diantar ibu menggunakan sepeda onthel, aku duduk di belakang dan ibu yang menyetir, ibusangat bergegas mengayuh sepedanya, guna agar anaknya tidak terlambat sampai sekolah, karena anaknya akan menjadi petugas upacara, paskibra tepatnya
Dengan menggunakan seragam putih merahyang sangat kumal dan sepatu jebol di bagian bawahnya, ibu mengerem sepedanya tepat di depan gerbang yang setengah tertutup, sampailah aku di sekolah, danibu memeluk kudan mencium ku sambil berkata ‘’jagoan ibu semoga sukses’’, siap bu!
Aku bergegas lari ke dalam kantor, guna mengambil bendera yang berada dalam lemari brangkassekolah, ku ambil dengan pelan karena takut terkena noda dari ku, aku menaruh tas dan berjalan ke tengah lapangan dengan sangat pelan.
Guru-gurudan teman-teman sudah berbaris rapi di halaman lapangan tengah sekolah , aku berbaris di antara petugas yang lain, upacara pun mulai dan aku beraksi, dengan perasaan sangat girang karena bendera berhasil di kibarkan,
Kembali ku gendong tas merah ku di pundak dan berjalan menuju gerbang depan, semua anak sudah pulang dengan menggunakan sepedanya satu persatu, didepan gerbang hanya tersisa empat anak, yaitu aku,hudi, hendro, dan diana, akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki karena tidak punya sepeda.
Langkah demi langkah kami tempuh, meter demi meter kami lalui sambil canda gurau, sebenarnya tiga teman ku ini sudah punya sepedh tapi orsng tusnya tidak tega kalau harus membiarkan anaknya mengayuh sepeda
Sambil nyerocos kesana kesini, tidak terasa kami sampai didepan rumah masing-masing, dan akhirnya kami janjian untuk main nanti sore.
‘’asalamualaikum,,,,!!!!’’ teriak ku dari depan pintu rumah, dan dari belakang rumah ibu menjawab, ‘’waalaikumsalam,  loh kok sudah pulang??’’ tanya ibu, ‘’kamu bolos ya??’’ tidak bu, tadi habis upacara semua guru ada rapat pertemuan jadi dipulangkan lebih awal, ‘’oo begitu tho’’
‘’terus gimana upacaranya tadi?? , dengan raut wajah penasaran ibu menunggu , ‘’ya sukses lah bu, fahmi kan anak garuda’’
Setelah basa basi dan ganti pakaian aku langsung minta jzin untuk main bareng teman-teman.
‘’pulangnya jangan sore-sore, ingatsholat’’ pesan ibu sambil sedikit teriak
Langsung aku berlari ke lapangan depan rumah diana, dan ternyata teman-teman sudah padda kumpul, bahkan sudah ada yang tidur(hudi).
‘’kok lama sih fah??’’, tanya diana, ‘’ya lama lah kan aku harus jalan kaki karena tidak punya sepeda,’’  eh fah, gimana kalo kita kerjain tu si hudi, soalnya dia sudah tidur dari tadi, ajakan setan dina,’’masuk akal juga tu, ya sudah sana cepet ambil air yang banyak,’’
Tiba-tiba dari kejauhan hendro sudah lari dan membawa seember air, dan tanpa tunggu lama langsung deh dia siramkan ke wajah nya hudi, ‘’hahaha......,,  langsung deh sihudi bangun dengan kaget dan basah kuyup.
‘’Wah parah lu din, lawong saya enak-enak tidur kok malah disiram pakek air,’’ salah sendiri yang lain pada kumpul kok eh ternyata kamu enak-enakan tidur, cerocos diana.
Sedangkan hendro hanya tertawa terpingkal-pingkal melihak kejadian itu, ‘’udah-udah kita mau main apa kali ini’’ potong diana, ‘’maen seperti biasa saja’’ ya udah berangkat,
Haripun menjelang sore dan akhirnya mereka berempat kembali ke rumah masing-masing,
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun kita lewati bersama,tak terasa satu persatu meraka menghilang seiring berkembangnya zaman, tempat kami bermain pun menghilang, kampung yang indah dulu, sekarang telah menghilang, dulu sejauh mata memandang saya dan teman-teman dapat melihat pesawahan yang luas, namul sekarang angkuh tembok pabrik berdiri, tanah bapak ibu yang luas dijualnya karena tertindas, kambing sekandang, motor segudang sudah habis sebagai gantinya, namun tak membuahkan hasil.
Mungkin satuper satu teman yang menghilang tak kan pernah datang, karena terhalang tembok menerpang,
Sementara teman-teman menghilang akupun juga mau terbang kesebuah pondok pesantren, sebenarnya aku tidak menginginkan hal itu, tapi itu semua kemauan orang tua, agar anaknya menjadi orang yang paham akan agama,
27, mei itulah hari pertama ku menginjak tahah pesantren, dan ternyata suasananya sangat berbeda dari yang ku bayangkan, anaknya rapi-rapi, ramah, sopan, pokoknya saya dibuat kagum
Tak bisa di pungkiri saat ini bahwa pesantren adalah benteng terbaik untuk menjaga moral dan akhlak para penerus bangsa.Dan dari pesantren pula terlahir tokoh-tokoh yang merambah kancah Internasional. Seperti syekh Mahfudz At Turmuzi (Termas, Pacitan) dengan kitab mauhibah Mauhibah dzil fadlnya yang menjadi referensi Internasional di bidang fikih, kiai Ihsan Dahlan (Jampes, Kediri) dengan kitab shirajut thalibinnya yang menjadi referensi internasional  di bidang tasawuf. Ada juga  kiai Kholil Bangkalan yang menjadi guru besar masjidil haram. Dan masih banyak lagi kiai yang merambah kancah Internasional.Mereka adalah contoh-contoh santri yang berkualitas yang bermanfaat bagi sesama.
Itulah alasan ku kenapa aku mau di taruh di ponpes ini, hari pertamaku ku anggap lancar dan seterusnya begitulah, namanya juga sudah sma, pasti sangat banyak tantanganya, mulai dari hukumah kecil sampai besar pernah ku jalani semua, pernah juga aku menghadiri sebuah konser leto yang digelar di lapangan kota, dan kembalinya saya langsung di ciduk pengurus, dapatlah saya air got tersebut,
‘’eh rik setelah aku pikir-pikir aku lo kayak tidak betah lama-lama di pondok, gimana ya kalo kita keluar sebentar, untuk refresing gitu’’ oh ya betul juga itu aku juga sepemikiran dengan kamu, jawab riki
‘’Tapi kita mau kemana?? Kita kan gak punya uang’’ ah itu gampang kita malak aja ke temen-temen yang habis sambangan,
Setelah uang palakan terkumpul banyak berangkatlah aku dan riki ke pager belakang dan loloslah kami , dengan berjalan mengendap-endap, sangat pelan kami berjalan karena takut ketahuan,
Kami melewati panasnya sawah yang luas, dan akhirnya sampailah kami diwarung pojok, kami langsung memesak kopi dan gorengan sepiring, sambil canda gurau, kesana kesini, matahari sudah sampai tengah kepala, kami bergegas kembali ke jalan sawah,
Keringat rasanya sudah habis terkuras, panasnya menyengat kulitit oke lah kalo begitu,
‘’hah lelah juga akhirnya, kamu bawa air apa enggak? Aku haus ni,’’  ‘’enggak, minum saja di sumberan itu’’
Kami berangkat menuju sumberan itu, dan ternyata airnya sangat dingin, ‘’wah seger banget rik airnya’’  dan kami pun melihat ada batu besar yang bolong tengahnya,
‘’he fah lihat to batu besar itu, batu itu bolong tengahnya, Cuma kena tetesan air setiap hari, masak kita yang tidak sekeras batu tidak bisa sembuh kalau di kasih nasihat,’’ iya juga, batu saja bisa bolong karena Cuma di tetesi air setiap harinya, pasti kita juga bisa seperti batu itu, kita kan setiap hari dikasih nasihat pak yai.
Kami pun diam sejenak untuk istirahat dan merenung melihat batu itu.
Akhirnya kami berdua pun kembali kepondok, sesampainya di pager belakang kamipun ketahuan salah satu pengurus, kami pun disuruh masuk pondok lewat gerbang depan , kami langsung digiring ke tengah lapangan, dimarahi tentunya, dan akhirnya kami di gundul,
Selesai di gundul kami di suruh mandi dan sholat berjam’ah, kami nurut saja kali ini, karena hari ini hari jum’at, jadi hari ini tidak ada diniyah,
Kami berdua hanya terdiam di kamar, kami masih mengingat-ingat kejadian batu tadi, dan saya berjanji untuk tidak mengulangi tingkah nakal kami
Satu tahun kemudian aku lulus sma, dan ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, namun apa daya biaya tidak mendukung untuk melanjutkan, dan akhirnya saya memutuskan untuk kerja di warung depan pondok, lumayan lah jika hanya untuk beli makan dan menabung
Setelah uang terkumpul banyak saya baru berani daftar di salah satu universitas di kota, masih sambil mondok tentunya
Nah mulai dari detik ini entah kenapa saya ingin merebut kembali desa ku yang sekarang berdiri tembok besar, maka saya ambil jurusan perhubungan, niatan pengen merebut pabrik yang pegawainya mayoritas bukan penduduk desa
Setelah saya lulus sekripsi langsung saja saya di angkat menjadi mentri perhubungan, karena saya termasuk murit yang paling pandai hehehe,,
Hari demi hari ku nikmati pekerjaanku ini, dan setelah kusurve semua proyeknyang ada di indonesia, dan akhirnya ku temukan siapa pemilik pabrik pestisida itu, aku pun berfikir panjang untuk gimana caranya merebut dan mengambil alih kepemilakan pabrik itu
Sangat nafsu sekali saya jika di suruh usaha merebut pabrik itu, karena dulu itu tempat kami bermain, bersenang-senang menghabiskan waktu, namun semua di gusur untuk berdirinya tembok itu, namun warga desa tidak ada yang boleh bekerja di situ, entah apa alasanya saya juga kurang tahu
Karena saya hobi utak-utek komputer, karena saya juga termasuk heacker di kampung, hehe,, saya pun mencoba memasuki data arsip nya proyek itu, wauu!!, tidak kusangka ini adalah proyek besar, setelah hampir satu jam saya meneliti berkasnya, saya samakin nafsu untuk merebut ini pabrik, setelah mau saya keluarin, eh tau-taunya ada e-mail yang masuk, dan ku baca, ternyata isinya adalah transaksi lima puluh gram sabu-sabu, sentak saya langsung terkejut, atas e-mail tersebut
Langsung saya berangkat ke kantor polisi terdekat dan melaporkan kejadian tersebut, seger lah polisi meringkus kejadian tersebut
Dan aku pun memutuskan untuk mengganti bos dan asistenya  dalam pabrik itu, dan aku ganti dia dengan teman-teman kampung ku dulu,
Aku hubungi mereka satu-persatu, hendro, hudi, diana aku ajak miting sebentar, guna untuk kebaikan desa kami, kesana-kemari kami membahasnya, dan akhirnya kami memutuskan untuk mempertahankan pabrik yang telah berdiri, namun pegawainya kami ganti dengan penduduk asli pri bumi
Akhirnya kami sepakat untuk mempertahankan pabrik, dan sekarang yang menjadi bos barunya ialah Hendro, skretarisnya Diana, dan bagian keuangan ialah hudi
Lima ratus lebih aku mengangkat karyawan baru dari desa setempat, dan aku tetap menjalani pekerjaan ku sebagai mentri perhubunganCita-cita ku selama ini telah tercapai, yaitu mempertahankan desaku.         






Description: Image result for gambar lucu pramuka


Komentar

Postingan populer dari blog ini

storytelling anglingdharma

esai tentang kerupuk klenteng khas bojonegoro