manganan khas bojonegoro

MANGANAN, KIAI SOIM DAN KAUM MUDA


 Ahmad Bayhaqi
SMA Plus Al-Amanah



            “Deso mowo coro”, mungkin itulah istilah yang tepat bagi adat manganan di Bojonegoro .walaupun acara yang dilakukan dalam adat manganan,Hanya makan-makan dan berdo’a untuk leluhur. Namun, sebagian desa lain menambah acara manganan dengan kesenian wayang, sindir, ketoprak, dan lain-lain. Bahkan, sebagian desa lain masih menggunakan sesaji dan kemenyan dalam ritual manganan.   
              Umumnya, manganan dilaksanakan di tempat-tempat angker dan mistis seperti gerumbul-gerumbul, pohon-pohon besar, sumur tua, dan kuburan yang dikeramatkan oleh sesepuh desa.[b1] karena mereka menganggap dengan melakukan manganan tersebut hasil panen akan lebih melimpah dan desanya aman dari marabahaya.
Tak terkecuali dengan Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, khususnya Dukuh Balongsumber. Dukuh tersebut berada di sebelah barat daya Kota Bojonegoro. Sekitar satu km ke selatan dari gapura perbatasan selamat datang Bojonegoro bagian barat. Dukuh tersebut dikelilingi oleh rumpun bambu yang lebat. Konon rumpun bambu tersebut selain sebagai pagar alami, juga sebagai pagar gaib yang dijaga oleh dayang-dayang dukuh tersebut.
Pohon keramat yang biasa digunakan untuk ritual manganan tersebut terletak sekitar 100 meter kearah utara dari Dukuh Balongsumber. Ritual dilaksanakan setiap hari Jum’at Pahing. ula-mula tumpeng diarak dari desa kemudian sesampainya di pohon tersebut ritual dimulai dengan membakar kemenyan, biasanya sesepuh desa yang membakarnya sambil mengucapkan mantra-mantra jawa kemudian sesepuh memberi wejangan, lalu disusul dengan hiburan-hiburan, seperti sindir dan  wayang.Hiburan tersebut merupakan acara penutup dan dibarengi dengan makan tumpeng tadi.

Angker dan Memakan Tumbal
Keangkeran dukuh tersebut disebabkan para dayang selalu meminta tumbal pada hari-hari tertentu. Jika dayang desa mulai mencari tumbal, maka keranda mayit yang disimpan di masjid akan berkeliling dukuh. Lalu berhenti pada rumah  yang dituju. Kemudian esok harinya orang tersebut pasti meninggal dunia. Contoh keangkeran lain adalah ketika ada koloni Belanda melewati dukuh tersebut. Koloni Belanda itu seolah-olah memasuki hutan belantara sehingga mereka tidak berani menyalakan mesin kendaraan karena ditakutkan mengganggu binatang-binatang buas yang ada dihutan. Mereka baru berani menyalakan dan menaiki kendaraan setelah keluar dari hutan itu.

Sejarah KH. Soim

Seperti diketahui bahwa ritual manganan yang dilakukan di daerah tersebut sangat bertentangan deengan kaidah–kaidah Islam, namun apa hendak dikata. Selain karena pengetahuan masyarakat yang masih pas-pasan terhadap Islam, tradisi itupun telah mengakar kuat di masyarakat setempat. Hampir tidak mungkin menghilangkan tradisi tersebut dari kehidupan masyarakat.
Seorang putra daerah bernama KH. Soim terusik melihat fenomena itu. Beliau merasa risih dengan kehidupan masyarakat di daerahnya yang serba mistis. Didasari keinginan yang kuat untuk mengubah gaya hidup yang serba mistis menjadi agamis serta didorong oleh ayahnya Mbah Kromo Sentono untuk memperjuangkan agama Islam, KH. Soim memutuskan menuntut ilmu kepada Mbah Nawawi.
Mbah Nawawi adalah seorang kiai desa yang bertempat tinggal di Desa Ngulanan, sekitar 2 km ke arah utara dari Dukuh Mbalongsumber. Disana beliau mengajari anak-anak desa yang ingin berguru kepadanya tanpa memungut biaya sepeser pun. KH. Soim mengaji dengan sungguh-sungguh dan penuh perjuangan karena didasari tekad yang kuat untuk memperjuangkan agama di daerahnya. Beliau dapat dengan cepat menguasai ilmu yang di berikan gurunya sehingga dianggap anak sendiri olehnya. Hal tersebut juga dikarenakan Mbah Nawawi tidak memiliki keturunan.
            Di akhir hayatnya, Mbah Nawawi berpesan kepada KH. Soim untuk menyempatkan diri berziarah kemakamnya sebagai seorang murid yang patuh. KH. Soim pun melaksanakan perintah gurunya karena beliau sadar tak akan ada yang mendoakan gurunya karena gurunya tidak mempunyai keturunan. Biasanya beliau juga mengajak anak-anaknya khususnya putra yang paling sulung, yaitu KH. Sochib Soim. Selanjutnya, kegiatan ziarah itu diteruskan putra beliau bersama para santrinya yang kini mencapai kurang lebih mencapai 500 santri.

              Selain berguru kepada Mbah Nawawi, beliau juga berguru kepada kiai-kiai lain yang dekat dengan tempat Mbah Nawawi tinggal. Kemudian karena melihat sikap beliau yang sopan dan ramah, salah satu gurunya menikahkan beliau dengan gurunya yang bernama Hj.Lasmini.
            Setelah menikah, beliau memboyong istrinya ke dukuhnya untuk membantu meluruskan akidah-akidah yang telah rusak di kalangan masyarakat daerahnya. Dapat dikatakan bahwa perjuangan beliau sangat sulit karena tradisi-tradisi tersebut  telah mengakar kuat di kalanagn masyarakat.
            Sebagaiman masyarakat umum yang belum mengenal Islam dengan baik, masyarakat dukuh tersebut sulit untuk diajak mengaji secara langsung. Mengetahui hal tersebut, KH. Soim lebih mengedepankan dakwah bil  HALL (dakwah dengan tingkah laku), yaitu dakwah dengan menunjukan sikap sopan ramah-tamah dan merakyat sehingga beliau dengan mudah mendapat hati di masyarakat.
        Contohnya ketika mengajak mengaji ,beliau tidak langsung mengajak mereka. Tetapi mendekati mereka dulu ,membantu bila mereka sedang susah lalu dengan sendirinya meraka akan semakin dekat dengan beliau sehingga dengan mudah dakwah beliau diterima di masyarakat setempat.
            Di kalangan masyarakat setempat, beliau diakui sebagai kiai yang memiliki karomah sehingga setiap ada orang dukuh yang kesurupan pasti dibawa ke rumah beliau dan setelah diberi minum air yang telah diberi doa, orang tersebut akan sadar seperti semula.



Membuat Sumur Ajaib
Sejak zaman dahulu, Bojonegoro dikenal sebagai daerah yang tandus dan akrab dengan banjir sehingga ada istilah yang akrab dengan orang Bojonegoro, “nek ketigo gak  iso cewok, nek udan gak iso ndodok” (kalau kemarau tidak bisa membersihkan diri setelah buang air karena tidak ada air, kalau hujan tidak bisa jongkok karena banjir). Istilah itupun akrab dengan masyarakat daerah Balongsumber yang tandus dan rawan banjir. Jika kemarau orang-orang dukuh mengambil air di tempat lain yang tempatnya jauh.
Melihat hal tersebut, KH. Soim berupaya untuk membuat sumur di samping rumahnya. Walaupun telah banyak orang yang mencobanya dan tidak ada yang berhasil, KH. Soim tetap bertekad akan membuat sumur karena yakin bahwa sama-sama buminya Allah SWT pasti dapat menghasilkan rizki. Beliau bertirakat selama 40 hari. Hj. Lasmini mengungkapkan bahwa suaminya selama bertirakat setiap pukul 12 malam selalu berdzikir kepada Allah dan salat malam agar hajatnya tercapai. Setelah menjalani tirakat tersebut, beliau memanggil tukang gali sumur. Setelah mencapai kedalaman 10 meter tukang tersebut mengaku menyerah karena tidak mungkin tanah dukuh tersebut bisa menghasilkan air.
            Karena keyakinan beliau yang kuat, dengan mantap beliau berjanji kepada tukang gali tersebut. Jika dalam tiga hari lagi sumur tersebut tidak mengeluarkan air, tukang tersebut akan diberi kerbau. Mengingat pada zaman dahulu kerbau adalah peliharaan yang istimewa sehingga tidak setiap orang mampu memilikinya, akhirnya penggali sumur itu setuju untuk meneruskan penggaliannya.
            Esoknya, beliau bertirakat 2 hari 2 malam tidak makan dan memperbanyak dzikir dan sholat malam. Pada malam terakhir, beliau mendapat isarat lewat mimpi. Beliau bermimpi sedang berada di bawah jembatan yang dibawahnya mengalir air dengan deras , jarak beliau dengan air tersebut sekitar 3 meter. Beliau memaknainya agar menggali sumur lagi sedalam 3 meter.
            Pagi harinya, sesuai dengan janjnya, tukang gali sumur datang untuk bekerja lagi. Dengan disaksikan KH. Soim, tukang tersebut mulai menggali lagi sampai pada kedalaman 12 meter tukang tersebut kembali menyerah. Namun, dengan tegas KH. Soim menyuruh tukang untuk menggali lagi sampai 13 meter.
            Sesuai dengan mimpi beliau kedalaman sekitar 13 meter kurang 5 centi air keluar dengan sangat deras sehingga dengan tergesa-gesa tukang tersebut naik ke permukaan. Dalam waktu singkat, warga berbondong-bondong mengambil air di sumur tersebut. Konon setelah adanya sumur itu, baru setiap orang yang menggali  sumur di dukuh itu bisa keluar air dan dalamnyapun sama antara 10 sampai 13 meter.

      Dengan adanya sumur tersebut, beliau makin disegani oleh masyarat sekitar. Setelah mendapat tempat di masyarakat, beliau mulai dengan tegas melarang hal-hal yang bertentangan dengan akidah dan mengajak sholat jamaah serta mengaji di masjid. Beliau dengan tegas melarang diadakannya manganan di kuburan dan tempat angker lainnya.
            Awalnya, memang belum semuanya mau meninggalkan tradisi yang sudah  turun-temurun dari nenek moyang tersebut. Namun, lama kelamaan mereka mau memindah  acara manganan dari kuburan ke masjid dan mengganti hiburan–hiburan dengan do’a bersama.
             Jika dulu manganan dilakukan dengan membawa tumpeng dengan berbagai isi,seperti apem,jaddah,ayam panggang dan nasi kuning. Sekarang tumpeng tersebut diganti seikhlasnya orang yang membawa. Hiburan-hiburan seperti wayang dan sindir pun dihapus karena lebih cenderung ke sifat foya-foya. Untuk manganan di masjid wanita tidak diperkenankan ikut karena manganan dianggap acara bagi kaum laki-laki yang mencari nafkah dengan mengolah bumi (bertani,berkebun dll).
              Ada sedikit kontroversi antara KH.soim dengan sesepuh adat yang memegang teguh ajaran manganan kuno, karena kedudukan mereka merasa tersaingi oleh KH.Soim . namun hal tersebut tidak menggoyahkan niat KH.Soim untuk meluruskan akidah masyarakat setempat.
           Beliau mengubah do’a-do’a  di dalam acara manganan kalau dulu do’anya ditujukan kepada leluhur yang dianggap dapat memberikan keberkahan,sekarang diubah menjadi “ya allah kami bersyukur atas ni’mat yang Engkau berikan semoga dengan lantaran syukuran kami ini Engkau berikan keberkahan kepada kami di masa mendatang dan menjauhkan kami dari mara bahaya amiin)
    

Mulai Kurangnya Penerus          
              Tradisi yang telah berubah tersebut memang sepenuhnya didukung oleh masyarakat setempat. Namun, tradisi itu dianggap kuno oleh kaum muda sekaran, mereka lebih senang bermain dengan teman-teman sebayanya daripada ikut manganan di masjid. Mereka menganggap tradisi manganan di masjid adalah acara jadul dan keinggalan zaman. Mereka menilai tradisi manganan tersebut sama dengan makan di rumah sendiri, padahal dalam tradisi manganan tersebut terkandung nilai sosial yang tinggi. Tradisi manganan itu merupakan tradisi kebersamaan yang harus dijaga dan dilestarikan.
            Nilai religius pun banyak terkandung dalam tradisi trsebut karena biasanya manganan dilaksanakan setelah sholat Jum’at dan bertepatan dengan hari Jum’at Pahing. Tradisi ini dilakukan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rezeki dari hasil panen karena itulah tradisi ini juga disebut “sedekah bumi”.
            Namum seperti yang diketahui tadi, generasi muda masa kini mulai cenderung pada budaya barat yang dikenal lebih modern. Mereka tidak mau tahu tentang sejarah di daerah mereka. Padahal, merekalah harapan utama dalam perkembangan bangsa ini. Apa jadinya bangsa ini jika pemudanya tidak mengetahui sejarah daerahnya? Bayangkan jika 10 tahun lagi generasi tua sudah meninggal, sedangkan para pemuda masa kini lebih egois dan mengutamakan budaya barat, mereka tak menghargai budaya dan tradisi bangsa sendiri, lalu bagaimana nasib sejarah di masa depan?







Komentar

Postingan populer dari blog ini

storytelling anglingdharma

esai tentang kerupuk klenteng khas bojonegoro